Bukti yang saat ini masih ada di Polair Polres Tarakan. (Foto : Istimewa)
TARAKAN – Sat Polair Polres Tarakan hingga saat ini masih mendalami keterangan saksi berkaitan dengan perkara meninggalnya tiga orang yang diduga akibat penganiayaan namun dibuat seolah-olah kecelakaan laut. Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kasat Polairud Polres Tarakan, Iptu Jamzani memastikan penyelidikan kasus tersebut tidak dihentikan. Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan saksi yang sudah diketahui.
“Penyelidikan tidak sampai disini. Ada saksi pada saat di tempat kejadian perkara (TKP), memang ada yang mengetahui, tapi mendengar saja suara tabrakan. Jaraknya kurang lebih 100 meter, memutar lah tugboat tadi, tapi ternyata menemukan mayat,” ujarnya, Selasa (8/3).
Sementara, penyidik masih mencari tahu siapa yang dimungkinkan menjadi pelakunya. Hal ini untuk memastikan kejadian tersebut apakah kecelakaan laut atau ada tindak pidana lain. Penyidik juga tengah mengumpulkan barang bukti bekerjasama dengan Basarnas. Saat ini, barang bukti yang ada hanya udang, uang dan tas. Sedangkan, speedboat juga belum ditemukan.
9Dari beberapa kejadian laka laut, diakuinya sulit menemukan barang bukti speedboat. Kedalaman laut sulit diketahui, pencarian sudah menggunakan trawl dan alat Polair berupa sonar. Meski di atas laut tampak tenang, namun dibagian bawah laut tidak bisa diketahui dan bisa jadi ada arus kencang.
“Saksi sudah banyak, sekitar 21 orang. Termasuk anak buah kapal (ABK) tugboat yang katanya mendengar. Ada juga keterangan tambahan, pada saat kejadian ada nelayan satu orang yang melihat, tapi tidak tahu siapa. Nah ini yang kami masih melakukan penyelidikan,” tuturnya.
Hingga saat ini, Unit Gakkum Polairud Polres Tarakan, kata dia masih melakukan pencarian terhadap nelayan tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan rekontruksi berkaitan kasus tersebut untuk membuat perkara ini lebih jelas dan petunjuk dari Polda Kaltara, saat gelar perkara belum lama ini.
Dalam reka adegan nanti, rencananya penyidik akan mengundang dari KSOP, Basarnas yang melakukan pencarian dan saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Pihaknya menyesuaikan cuaca juga nanti, agar pelaksanaan rekontruksi tidak terpengaruh gelombang atau hujan.
“Bagaimana cara membawa korban ini. Kemudian, membawa udang muatan 9 boks kali 40 kilo. Sampai di TKP. Kami akan pakai speedboat nanti, boks itu juga akan kami isi. Jadi, kalau muat kurang lebih 500 kilo dengan speedboat 40 PK, kecepatannya bagaimana. Harusnya datar saja jalannya, tidak bisa cepat dan tidak maksimal,” ungkapnya.
Untuk diketahui, seperti diberitakan sebelumnya, korban pertama Agusliansyah ditemukan warga mengapung di sekitar perairan Tanjung Pasir pada 13 November lalu. Didapati informasi ada dua orang rekannya Arfan dan Riski yang juga berada di speedboat yang sama. Keduanya kemudian ditemukan pada 15 November di sekitar muara sungai pamusian. Dari kondisi ketiga korban, ditemukan ada beberapa luka bekas sabetan benda tajam.(sh)
































