KANALPUBLIK.COM, MALINAU – Di wilayah yang akses antar-desanya dipisahkan hutan lebat, lembah curam, dan jarak tempuh berjam-jam, para pemuda Kecamatan Sungai Tubu membuktikan satu hal bahwa geografis ekstrem tidak akan mematahkan semangat mereka untuk bergerak.
Setelah Karang Taruna Kecamatan Sungai Tubu (Kesitu) resmi terbentuk pada Agustus 2025, organisasi kepemudaan ini langsung tancap gas menggelar Karang Taruna Cup 2025, sebuah turnamen sepak bola yang mempertemukan para pemuda dari lima desa yaitu Long Pada, Long Ranau, Long Nyau, Rian Tubu, dan Long Titi.
Event yang dipusatkan di Long Pada ini menjadi sejarah baru, karena ini adalah turnamen pertama sejak kecamatan tersebut berdiri pada 2013.
Semangat PORCAM & IRAU yang nyalakan energi pemuda
Ketua Panitia Idau menyebut, ide turnamen ini datang dari semangat masyarakat pada PORCAM Agustus lalu dan kiprah atlet Kesitu di IRAU ke-11 Malinau Tahun 2025.
“Ini pertama kali dalam sejarah Sungai Tubu. Antusias masyarakat dan semangat atlet membuat kami memberanikan diri menggelar turnamen ini,” ujar Idau.
Ia menambahkan, dukungan dari Bupati Malinau Wempi W. Mawa melalui Dispora menjadi kunci terlaksananya kegiatan tersebut.
Pemuda harus jadi motor pembangunan
Sementara itu, Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakay, tidak menutup kemungkinan kegiatan ini menjadi agenda tahunan.
“Ini bukan sekadar turnamen bola, tapi ruang bagi anak muda untuk berkumpul, berdiskusi, dan melahirkan ide pembangunan. Pemuda harus jadi motor penggerak Sungai Tubu,” tegasnya.
Dampak ekonomi: Lapangan jadi pasar dadakan
Pertandingan yang digelar pagi dan sore membuka peluang usaha bagi warga setempat. Lapangan pun berubah menjadi pasar kecil yang ramai oleh penjual makanan dan jajanan.
“Kami dorong masyarakat memanfaatkan momentum ini untuk membuka usaha,” tambah Ketua Panitia Idau.
10 Tim, 5 Desa, 1 Semangat
Karang Taruna Cup 2025 diikuti 10 tim dari seluruh desa, menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan pemuda tetap menyala meski berada di wilayah dengan tantangan geografis berat.
Turnamen ini sekaligus menunjukkan bahwa ketika ruang dibuka dan generasi muda diberi peran, desa-desa paling terpencil pun mampu menghadirkan energi besar untuk maju bersama.(Ck12).




































