KANALPUBLIK.COM, TANJUNG SELOR– Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) mendorong aparatur sipil negara (ASN) tidak sekadar memahami nilai-nilai BerAKHLAK, tetapi mampu menerapkannya melalui perubahan cara kerja, inovasi, dan pelayanan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, H. Sapi’i, S.T., M.A.P., saat mewakili Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., dalam kegiatan Penguatan Budaya Kerja BerAKHLAK Series 2.0 bertema “ASN Adaptif: Berubah, Berinovasi, Berdampak” di Ballroom Hotel Luminor, Rabu (2/9).
Sapi’i mengapresiasi Biro Organisasi Setdaprov Kaltara yang terus mendorong penguatan budaya kerja BerAKHLAK di lingkungan pemerintah daerah. Menurutnya, nilai dasar ASN tersebut harus diwujudkan dalam perilaku dan cara kerja sehari-hari, bukan berhenti sebagai slogan.
“BerAKHLAK harus menjadi budaya kerja yang kita lakukan setiap hari, bukan sekadar slogan,” tegas Sapi’i.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat menuntut ASN untuk semakin adaptif. Cara kerja yang hanya mengandalkan kebiasaan lama dinilai perlu dievaluasi agar pelayanan publik mampu mengikuti kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Karena itu, tiga pesan utama dalam kegiatan tersebut menjadi perhatian, yakni berubah, berinovasi, dan berdampak.
Sapi’i menjelaskan, perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. ASN perlu berani mengevaluasi cara kerja yang tidak lagi efektif, meningkatkan disiplin, mempercepat respons terhadap pekerjaan, memperkuat koordinasi, serta menyederhanakan proses pelayanan.
Sementara inovasi, kata dia, tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi baru. Penyederhanaan alur kerja, pemangkasan proses yang terlalu panjang, hingga pola komunikasi yang lebih efektif juga dapat menjadi inovasi apabila mampu meningkatkan kualitas dan efisiensi pekerjaan.
“Tidak harus selalu teknologi yang canggih. Yang penting ada cara kerja yang lebih sederhana, cepat, dan memberikan hasil lebih baik,” jelasnya.
Namun, perubahan dan inovasi harus bermuara pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Sapi’i mengingatkan agar berbagai inovasi ASN tidak hanya menghasilkan dokumen, laporan, atau kegiatan seremonial.
“Jangan sampai inovasi hanya bagus di laporan atau presentasi. Masyarakat harus bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Ia juga meminta Tim Implementasi BerAKHLAK di setiap perangkat daerah tidak hanya menjalankan fungsi administratif. Tim tersebut diharapkan menjadi penggerak perubahan dan menjadi contoh penerapan budaya kerja di lingkungan masing-masing.
“Budaya organisasi tidak akan berubah hanya karena spanduk atau slogan. Perubahan dimulai dari cara kita berpikir, bekerja, dan memberikan pelayanan,” katanya.
Melalui Penguatan Budaya Kerja BerAKHLAK Series 2.0, Sapi’i berharap peserta dapat membawa gagasan yang dapat langsung diterapkan di unit kerja masing-masing.
Ia mendorong setiap peserta setidaknya menemukan satu hal yang dapat diperbaiki, satu inovasi yang dapat diterapkan, dan satu dampak yang dapat dihasilkan dari perubahan tersebut.
Penguatan budaya kerja ini diharapkan mendorong ASN di lingkungan Pemprov Kaltara menjadi lebih adaptif terhadap perubahan, bekerja secara efektif dan efisien, serta menghadirkan pelayanan publik yang semakin cepat, sederhana dan berkualitas.
Pada akhirnya, penerapan BerAKHLAK diharapkan tidak hanya terlihat dari perubahan perilaku internal organisasi, tetapi juga tercermin melalui meningkatnya kualitas pelayanan dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat Kaltara.
