Karhutla Kaltara Terendah di Kalimantan, 14 Hotspot Terdeteksi di Bulungan

KANALPUBLIK.COM, TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terendah di Pulau Kalimantan hingga Juli 2026. Meski demikian, pemerintah daerah tetap memperketat kewaspadaan menyusul terdeteksinya 14 titik panas atau hotspot di Kabupaten Bulungan.

Berdasarkan data Opsroom Sipongi yang dihimpun Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, luas indikasi karhutla di Kaltara hingga Juli mencapai 400,62 hektare. Angka tersebut setara sekitar 0,70 persen dari total luas karhutla di regional Kalimantan.

Sementara secara nasional, luas indikasi kebakaran mencapai 202.004,32 hektare. Dengan demikian, luasan di Kaltara hanya sekitar 0,20 persen dari total indikasi karhutla nasional.

Di regional Kalimantan, Kalimantan Barat mencatat luas karhutla terbesar dengan 38.310,86 hektare. Disusul Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, Kalimantan Timur 2.715,76 hektare, dan Kaltara 400,62 hektare.

Di Kaltara sendiri, luas indikasi karhutla menunjukkan tren peningkatan secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026. Pada Januari tercatat 41,61 hektare, kemudian meningkat menjadi 66,59 hektare pada Februari, 69,25 hektare pada Maret, 124,17 hektare pada April, 196,59 hektare pada Mei, 315,12 hektare pada Juni, dan mencapai 400,62 hektare pada Juli.

Meski menjadi provinsi dengan luasan karhutla terendah di Kalimantan, kondisi tersebut tidak membuat Pemprov Kaltara menurunkan tingkat kewaspadaan.

Terlebih, hasil pemantauan satelit NASA-NOAA20 dan NASA-SNPP pada 5 September 2026 menunjukkan adanya 14 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang (medium) di Kabupaten Bulungan.

Sebanyak tujuh titik terdeteksi di Kecamatan Tanjung Selor, tepatnya di Desa Jelarai Selor. Kemudian tiga titik berada di Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Desa Tanjung Buka.

Sementara empat titik lainnya terdeteksi di Kecamatan Tanjung Palas Timur. Rinciannya, dua titik di Desa Binai, satu titik di Desa Sajau Hilir, dan satu titik di Desa Mangkupadi.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Kepala Dishut Kaltara Nurlaila menginstruksikan tim pengawas pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melakukan pengecekan lapangan atau ground check.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi di lokasi titik panas sekaligus mencegah potensi kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

“Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi bersama. Tetapi kita tidak boleh lengah. Memasuki September, kesiapsiagaan personel patroli dan tim respons cepat terus ditingkatkan,” kata Nurlaila.

Menurut dia, pengendalian karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas di lapangan. Peran masyarakat, pelaku usaha, hingga aparat desa juga dinilai penting dalam mencegah terjadinya kebakaran.

“Karhutla bukan hanya tugas aparat. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menjaga Kaltara tetap hijau, aman dan terhindar dari bencana asap,” tegasnya.

Nurlaila menambahkan, Dishut Kaltara terus memperkuat langkah pencegahan melalui patroli, pengawasan kawasan rawan, pemantauan titik panas, hingga sosialisasi kepada masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan agar setiap indikasi kebakaran dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum meluas.

“Kami terus meningkatkan pengawasan dan respons di lapangan. Setiap informasi titik panas akan ditindaklanjuti untuk memastikan kondisi sebenarnya,” pungkasnya.

Pos terkait