Kisah Warga di Perbatasan, Hidup Terisolasi dan Harap Pengembangan Bandara Perintis

HO/Facebook Anak Alam Ujung Negeri, Roni Manan

MALINAU, Cokoliat.com –
Meski sudah 76 tahun Indonesia merdeka, tapi nyatanya belum semua warga merasakan dampaknya secara berarti.

Salah satunya, bagi mereka yang kini tinggal di wilayah perbatasan.

Ketimpangan pembangunan yang terjadi di wilayah tersebut masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang hingga saat ini belum berhasil teratasi.

Bacaan Lainnya

Akibat kurangnya perhatian itu, tak sedikit warga di perbatasan yang sekarang masih hidup secara terisolasi.

HO/Facebook Anak Alam Ujung Negeri, Roni Manan

Akses transportasi yang sulit, tidak adanya jaringan listrik, hingga minimnya fasilitas kesehatan dan pendidikan menjadi keprihatinan tersendiri.

Salah satunya kisah warga di Perbatasan dari Bahau Hulu, Kabupaten Malinau yang sekian tahun menantikan pengembangan Bandara Perintis Long Alango.

Diketahui, peningkatan landasan pacu Bandara perintis Long Alango memang sangat dinantikan oleh masyarakat Bahau Hulu.

Apalagi bagi warga yang memerlukan rujukan pelayanan kesehatan dan harus menyeberangi derasnya arus Sungai Bahau menuju ke Bandara di kecamatan tetangga.

Hal ini disebabkan landasan pacu lapangan terbang (Lapter) Long Alango belum memadai.

Warga yang sakit dan perlu dirujuk, harus menyeberang ke Kecamatan Pujungan.

Saat ini, landasan pacu lapangan terbang atau Bandara perintis tersebut hanya dirawat dan dibenahi melalui swadaya masyarakat di 6 desa Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau.

Salah seorang Tokoh Pemuda Bahau Hulu, Roni Manan mengatakan, pembangunan hingga pengembangan Bandara telah sejak lama diusulkan masyarakat.

Karena kondisi landasan pacu yang masih berupa tanah dan rerumputan, hanya tipe pesawat tertentu yang dapat mendarat.

“Masyarakat Bahau Hulu banyak berharap kepada armada Maskapai MAF. Yayasan ini sejak dulu melayani misi kemanusiaan hilir mudik mengantar pasien rujukan dari pedalaman dan perbatasan Malinau,” ucapnya, Minggu (8/5/2022).

Ia bercerita, bahwa dulu Maskapai MAF masih beroperasi dan bisa landing menggunakan pesawat Cessna. Namun, karena yang beroperasi hanya tinggal pesawat jenis Kodiak, jadi sulit landing karena kondisi landasan pacu.

“Tak masalah jika hanya untuk keperluan penerbangan biasa. Namun berbeda jika dihadapkan kondisi darurat, seperti warga yang membutuhkan pelayanan segera,” ungkapnya.

Diketahui, beberapa waktu lalu, Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang bersama rombongan telah meninjau kondisi landasan pacu Bandara perintis Long Alango.

Sebagai Tokoh Pemuda dan mewakili masyarakat Bahau Hulu, Roni Manan berharap usulan pengembangan Bandara tersebut dapat diakomodir oleh Pemprov Kaltara dalam rencana pembangunan Kaltara 2023 mendatang.

“Kami banyak berharap agar Pemerintah Provinsi memperhatikan kondisi bandara kami. Semoga tidak ada lagi kejadian di mana kami harus menempuh rute berbahaya Jeram Sungai Bahau menuju Bandara Pujungan,” katanya. (ag)

Pos terkait