COKOLIAT.COM, MALINAU – Suara gitar meraung, sorakan penonton membahana. Sabtu (11/10/2025) malam, Panggung Budaya Padan Liu’ Burung berubah menjadi lautan energi ketika grup band legendaris Edane tampil memukau dalam rangkaian Festival Budaya IRAU ke-11 dan HUT ke-26 Kabupaten Malinau.
Band yang telah malang melintang di dunia musik sejak tahun 1991 itu menjadi artis ketiga yang diundang tampil pada festival dua tahunan kebanggaan masyarakat Bumi Intimung. Dengan gaya khas hard rock dan heavy metal, Edane menghadirkan hentakan musik yang membuat ribuan penonton larut dalam euforia hingga larut malam.
Yang membuat penampilan malam itu berbeda, para personel Edane tampil mengenakan atribut khas Dayak seperti rompi kulit, topi anyaman, dan kalung manik-manik berwarna mencolok. Sentuhan budaya lokal tersebut menjadi bentuk penghormatan mereka terhadap kearifan masyarakat Malinau.
“Kami ingin tampil dengan nuansa lokal, menghormati budaya Dayak dan masyarakat Malinau yang menyambut kami dengan luar biasa,” ujar Eet Sjahranie, gitaris Edane, usai tampil di belakang panggung.
Penampilan mereka mencapai puncaknya ketika lagu legendaris “Kau Pikir Kaulah Segalanya” mengalun. Lagu yang melejit di era 90-an itu membuat penonton bernostalgia, bernyanyi bersama, dan melompat mengikuti irama.
Tak berhenti di situ, Edane memberi kejutan dengan membawakan lagu daerah khas Dayak berjudul “Leleng.” Harmoni antara suara rock dan melodi etnik Kalimantan menciptakan momen langka yang menyatukan penonton dari berbagai usia.
“Itu momen paling berkesan malam ini. Kami main rock, tapi tetap bisa menyatu dengan budaya Dayak yang luar biasa,” tambah Eet Sjahranie dengan senyum puas.
Bagi warga Malinau, penampilan Edane bukan sekadar konser, tetapi simbol persahabatan antara musik modern dan warisan budaya lokal. Ribuan warga yang memadati kawasan Padan Liu’ Burung larut dalam suasana penuh kebanggaan dan kegembiraan.
Malam itu, Edane tidak hanya mengguncang panggung dengan dentuman musik keras, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa musik mampu menjembatani perbedaan dan mempererat kebersamaan.
Di bawah langit Malinau yang bercahaya, rock dan budaya Dayak berpadu indah menegaskan bahwa IRAU bukan sekadar festival, melainkan perayaan harmoni dan kebanggaan bersama.
