COKOLIAT.COM, MALINAU – Banjir akibat hujan ekstrem yang melanda Kabupaten Malinau selama beberapa minggu terakhir telah menyebabkan kerusakan serius di sektor pertanian. Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Tinas, mengungkapkan bahwa bencana ini terjadi pada masa yang sangat krusial, yakni saat musim tanam dan panen sedang berlangsung.
“Banjir ini terjadi berturut-turut selama beberapa minggu, dan itu tepat di masa panen dan masa tanam. Kita sudah melakukan Musim Tanam 1 (MT1) dan Musim Tanam 2 (MT2), tapi banyak lahan yang terendam, termasuk lahan penangkar benih milik dinas,” ujar Tinas saat ditemui, Senin (2/6/2025).
Tinas menjelaskan, akibat banjir ini, hasil panen dipastikan akan menurun drastis. Bahkan empat kecamatan yang menjadi sentra produksi pertanian di Malinau — yakni Malinau Kota, Malinau Barat, Malinau Utara, dan Mentarang — disebut sebagai wilayah yang terdampak paling parah.
“Empat kecamatan itu adalah andalan kita untuk MT1. Sekarang semuanya terdampak. Pendapatan petani dan produksi pangan kita akan menurun drastis,” tambahnya.
Menurutnya, dampak dari banjir bukan hanya pada gagal panen, tetapi juga terhadap kualitas benih yang disiapkan untuk musim tanam berikutnya. Beberapa lokasi penangkaran benih mengalami kerusakan sehingga berisiko menurunkan produktivitas jangka panjang.
“Beberapa penangkaran benih sudah rusak. Kalau kualitas benih menurun, tentu akan berpengaruh pada musim tanam berikutnya. Ini musibah besar bagi pertanian kita,” jelasnya.
Saat ini, Dinas Pertanian sedang melakukan pendataan kerusakan dan penataan ulang wilayah terdampak. Langkah ini penting untuk mengukur estimasi kerugian serta menentukan strategi pemulihan.
Tinas juga menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah memiliki komitmen untuk membantu petani, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran. Salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah distribusi ulang benih, tergantung kondisi keuangan daerah.
“Kita akan coba distribusi ulang benih, kalau memang memungkinkan. Tapi tentu sangat tergantung situasi anggaran. Pemda punya komitmen, namun kita juga perlu gotong royong dan solusi dari banyak pihak,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa bencana serupa juga terjadi di beberapa daerah lain di Kalimantan, seperti Samarinda, Berau, hingga Tanjung Selor. Oleh karena itu, Dinas Pertanian berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat untuk penanganan bencana pertanian secara menyeluruh.
“Fasilitas pertanian banyak yang rusak. Dan kita belum bisa memastikan seberapa besar penurunan hasil panen. Kami harap PPL di kecamatan terus mengirimkan data secara berjenjang,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Tinas menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, petani, dan berbagai pihak untuk memastikan ketahanan pangan tetap terjaga di tengah bencana ini.
“Harapan kita, pemerintah hadir dan memberi solusi nyata. Ini bukan hanya tanggung jawab dinas, tapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.




































