COKOLIAT.COM, JAKARTA – Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menghadapi tantangan unik dalam pembangunan daerah. Dengan luas wilayah mencapai lebih dari 38 ribu kilometer persegi lebih besar dari Provinsi Jawa Barat, pemerintah setempat dituntut memiliki strategi pembangunan yang cerdas dan adaptif di tengah keterbatasan sumber daya.
Hal itu disampaikan Bupati Malinau Wempi W. Mawa, S.E., M.H. dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kapasitas Camat yang digelar di Hotel Novotel Cikini, Jakarta.
Bimtek yang diikuti oleh seluruh camat se-Kabupaten Malinau itu difokuskan pada peningkatan kapasitas kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik di wilayah yang sebagian besar masih didominasi kawasan pedalaman dan perbatasan.
“Bayangkan, Jawa Barat itu provinsi dengan penduduk terpadat di Indonesia, tapi secara wilayah masih lebih kecil dari Malinau. Dengan kondisi seperti ini, kita harus punya strategi yang cerdas dalam membangun, meski dengan segala keterbatasan,” ujar Wempi, pada Jum’at (7/11).
Menurutnya, strategi tersebut tidak hanya menyangkut kemampuan teknokratis pemerintahan, tetapi juga cara memahami karakter sosial dan geografis masyarakat yang tersebar di wilayah dengan jarak tempuh antar-kecamatan yang bisa mencapai berjam-jam bahkan berhari-hari.
“Camat adalah ujung tombak pelayanan publik. Kalau camat paham kondisi wilayah dan bisa mengambil keputusan cepat, maka pemerintahan di tingkat bawah akan berjalan efektif,” lanjut Wempi.
Ia menekankan pentingnya digitalisasi pelayanan publik, penguatan peran kecamatan dalam pemberdayaan ekonomi lokal, dan kolaborasi lintas sektor agar pembangunan bisa dirasakan secara merata, bahkan hingga wilayah paling terpencil di perbatasan.
Selain memperkuat peran camat sebagai pemimpin wilayah, Wempi juga menegaskan perlunya inovasi dalam menyusun program prioritas yang berorientasi pada kebutuhan dasar masyarakat.
“Fokus kita bukan banyaknya program, tapi bagaimana setiap program punya dampak langsung pada masyarakat terutama pendidikan, kesehatan, dan ekonomi produktif,” ujarnya.
Ia berharap momentum bimtek tersebut dapat melahirkan camat-camat yang tangguh, visioner, dan berani mengambil inisiatif di lapangan.
“Membangun Malinau tidak bisa dengan cara biasa. Harus dengan pola pikir strategis dan kepemimpinan yang melayani,” tegas Wempi.
