KANALPUBLIK.COM, MALINAU – Komunitas ojek dan taksi pangkalan di Pelabuhan Speed Malinau mengeluhkan keberadaan angkutan online Maxim yang dinilai bebas mengambil penumpang langsung di area pelabuhan.
Perkembangan layanan transportasi online di Kabupaten Malinau diakui sebagai bagian dari kemajuan daerah. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memicu keresahan bagi ojek dan taksi pangkalan yang selama bertahun-tahun menggantungkan penghasilan dari aktivitas penumpang di kawasan pelabuhan.
Salah seorang ojek pangkalan, Amri, mengungkapkan bahwa saat ini mereka semakin kesulitan mendapatkan penumpang.
Bagaimana dengan kehidupan kami? Maxim dengan mudah mengambil penumpang di pelabuhan, sementara kami ojek dan taksi pangkalan hampir tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya kepada Kanalpublik.com, Selasa (2/26).
Menurut Amri, pelabuhan merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi sebagian besar ojek dan angkutan umum pangkalan. Masuknya angkutan online hingga ke area pelabuhan dinilai menciptakan persaingan yang tidak seimbang dan merugikan mereka.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah tegas dengan membuat aturan yang adil bagi seluruh pelaku transportasi.
Seharusnya pemerintah daerah bisa mengatur seperti di Tarakan. Angkutan online tidak boleh langsung masuk ke pelabuhan,” tambahnya.
Para ojek pangkalan dan sopir angkutan umum berharap adanya solusi terbaik dari pemerintah daerah agar tidak terjadi konflik berkepanjangan dan semua pihak tetap dapat mencari nafkah secara adil.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Malinau, pengelola Pelabuhan Speed Malinau, maupun pihak Maxim belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut. (KP01)
